skip to main |
skip to sidebar

Kurangi tidur, banyain ngopi
hahahahahahaa...........
itulah yg terucap dari mulut barudak nanggeleng...
komunitas anak-anak nanggeleng kini bertambah semakin banyak setelah mengalahkan beberapa komunitas yang berbahaya, diantaranya komunitas yang sring mengganggu seperti "Obe" ( Operasi Bilik )
dan bagusnya anak-anak nanggeleng tidak mempunyai pemimpin dan kehidupannya damai saling menghargai antara yang tua dan yang muda....
pekerjaan sehari-harinya hanyalah Begadang dan ngintip orang-orang yang lagi pada bersetubuh, heheheh...
salam Anak nanggeleng.

Islam amat menuntut umatnya sentiasa mudah meminta maaf dan mudah memberi kemaafan sesama saudaranya. Firman ALLAH:
“Dan orang yang berhati sabar dan suka memaafkan, sesungguhnya hal yang demikian itu adalah termasuk pekerjaan yang dilakukan dengan keteguhan hati.” (As Syura: 43)
Di pagi Syawal, isteri dituntut supaya memohon maaf dengan suami. Tapi ramai di kalangan para isteri yang segan untuk memohon ampun dengan suaminya. Inilah penyakit wanita hari ini; tengking suami tidak malu, tetapi untuk meminta maaf kepada suami, malu dan kekok sekali.
Kenapa mesti malu melakukan kerja yang mulia? Malu itu ada baik dan buruknya. Malu dalam melakukan perkara maksiat dan syubahat adalah sangat dipuji tetapi malu melakukan ketaatan kepada ALLAH sangat dikeji.
Merendahkan diri kepada suami merupakan suatu ketaatan terhadap hukum ALLAH. Kadang-kala sampai sepuluh kali mundar-mandir di bilik, di dalam hati tertanya-tanya: “Nak salam ke tidak?” Akhirnya dengan hati yang berat, pergi juga mengadap suami.
Bercucuranlah air mata kesayuan, “Bang, Yah minta maaf di atas segala kesalahan. Yah janji tak buat lagi.” Itulah janji si isteri.
Bersyukurlah jika ada isteri yang mahu meminta maaf biarpun setahun sekali. Amat malang sekali kalau seumur hidup tidak pernah berbuat langsung, tambahan pula kalau sudah tua. Mereka sedar diri mereka banyak dosa dengan suami tetapi apabila ego menguasai diri maka setiap kebenaran dipandang remeh dan dianggap bole ditangguh-tangguh. Sedangkan kalau seorang isteri itu mati tanpa keredhaan suami, Nerakalah tempatnya.
Meminta maaf dengan suami bukan di Hari Raya sahaja. Kita digalakkan memohon maaf ketika suami hendak keluar rumah, semasa sembahyang berjemaah dengannya atau semasa hendak tidur. Sekali kita memohon maaf dengannya maka bergugurlah dosa-dosa kita dan senantiasa di dalam keampunan Illahi.
Sayidatina Fatimah Az-Zahra pernah secara tak sengaja mengecilkan hati Sayidina Ali k.w. Untuk memohon maaf kepada suaminya sampai 70 kali hingga tersenyum Sayidina Ali menyaksikan kelucuan Fatimah masih belum puas hati lalu keesokan harinya beliau menceritakan kepada Rasulullah S.A.W hal itu.
Rasulullah memberitahu puterinya, seandainya Sayidina Ali tidak memaafkannya dan ditaqdirkan Siti Fatimah wafat ketika itu, nescaya baginda tidak akan memandikan jenazahnya. Begitulah tegasnya Rasulullah S.A.W dalam menegakkan hukum ALLAH. Suami mempunyai kuasa mutlak dalam rumahtangga sedangkan Rasulullah S.A.W hanya berhak memberi panduan dan nasihat sahaja.
Siti Aisyah r.ha pernah mencemburui Siti Khadijah r.ha walaupun ia telah lama wafat kerana Rasulullah S.A.W sering memuji keperibadiannya di hadapan Siti Aisyah. Tersentuh hati baginda apabila Siti Aisyah menggelarkan Siti Khadijah dengan panggilan yang tidak selayaknya. Tertitis air mata Rasulullah mengenangkan jasa-jasa Siti Khadijah yang telalu besar di atas pengorbanan jiwa, harta dan kasih sayangnya di saat orang lain memulaukan baginda. Baginda dikurniakan zuriat dengan Siti Khadijah. Akhirnya Siti Aisyah terdiam dan tidak pernah mengulangi kata-kata itu lagi.
Memanglah kita tidak boleh menandingi kesemua isteri Rasulullah S.A.W tetapi cukuplah kita mengambil pengajaran dan berusaha untuk memperbaiki diri ke arah itu.
Kalau tidak biasa memohon maaf kepada suami, memanglah dirasakan terlalu kekok dan perit untuk melakukannya. Sepatutnya kita lebih bimbang dengan kemurkaan ALLAH kalau kesalahan kita kepada suami tidak dimaafkan dan kita tidak diredhai oleh suami. Bukankah keredhaan suami itu bermakna keredhaan ALLAH jua?
Oleh itu kita tiada pilihan lain melainkan memiliki iman. Hanya orang yang beriman sahaja yang sanggup tunduk di atas segala perintah dan tegahan Illahi. Hanya wanita-wanita yang beriman sahaja yang senantiasa berdoa semoga ditunjuki jalan yang lurus sepertimana permohonan kita setiap kali mendirikan sembahyang:
“Ya ALLAH, tunjuki kami jalan yang lurus. Jalan mereka yang Engkau beri nikmat. Bukan jalan mereka yang Engkau murkai. Tidak juga jalan mereka yang sesat.”
Semoga dengan taufiq dan hidayah-Nya, dengan umur yang masih ada, diizinkan dapat kita gunakan sepenuhnya untuk berbakti kepada-Nya dan mentaati suami. Senantiasa bersikap rendah diri dengan suami dan selalu merasakan diri bersalah.
Jangan lengah meminta maaf, jadikan ia sebagai amalan harian kita. Meminta maaf bukan semestinya di Hari Raya sahaja kerana kita tidak tahu apakah ALLAH masih panjangkan umur kita untuk dapat berada di Hari Raya yang akan datang.

Ketika diangkat sebagai khalifah, tepat
sehari sesudahnya Abu Bakar r.a.
terlihat berangkat ke pasar dengan
barang dagangannya. Umar
kebetulan bertemu dengannya di
jalan dan mengingatkan bahwa di
tangan Abu Bakar sekarang terpikul
beban kenegaraan yang berat.
“ Mengapa kau masih saja pergi ke
pasar untuk mengelola bisnis?
Sedangkan negara mempunyai
begitu banyak permasalahan yang
harus dipecahkan …” sentil Umar.
Mendengar itu, Abu Bakar
tersenyum. “Untuk
mempertahankan hidup keluarga,”
ujarnya singkat. “maka aku harus
bekerja.”
Kejadian itu membuat Umar berpikir
keras. Maka ia pun, bersama sahabat
yang lain berkonsultasi dan
menghitung pengeluaran rumah
tangga khalifah sehari-hari. Tak lama,
mereka menetapkan gaji tahunan
2,500 dirham untuk Abu Bakar, dan
kemudian secara bertahap,
belakangan ditingkatkan menjadi 500
dirham sebulan. Jika dikonversikan
pada rupiah, maka gaji Khalifah Abu
Bakar hanya sebebsar Rp. 72 juta
dalam setahun, atau sekitar Rp 6 juta
dalam sebulan. Sekadar informasi,
nilai dirham tidak pernah berubah.
Meskipun gaji khalifah sebesar itu,
Abu Bakar tidak pernah mengambil
seluruhnya gajinya. Pada suatu hari
istrinya berkata kepada Abu bakar,
“ Aku ingin membeli sedikit manisan.”
Abu Bakar menyahut, “Aku tidak
memiliki uang yang cukup untuk
membelinya. ”
Istrinya berkata, “Jika engkau ijinkan,
aku akan mencoba untuk
menghemat uang belanja kita sehari-
hari, sehingga aku dapat membeli
manisan itu. ”
Abu Bakar menyetujuinya.
(image)
(image)
Maka mulai saat itu istri Abu Bakar
menabung sedikit demi sedikit,
menyisihkan uang belanja mereka
setiap hari. Beberapa hari kemudian
uang itu pun terkumpul untuk
membeli makanan yang diinginkan
oleh istrinya. Setelah uang itu
terkumpul, istrinya menyerahkan
uang itu kepada suaminya untuk
dibelikan bahan makanan tersebut.
Namun Abu Bakar berkata,
“ Nampaknya dari pengalaman ini,
ternyata uang tunjangan yang kita
peroleh dari Baitul Mal itu melebihi
keperluan kita. ” Lalu Abu bakar
mengembalikan lagi uang yang
sudah dikumpulkan oleh istrinya itu
ke Baitul Mal. Dan sejak hari itu, uang
tunjangan beliau telah dikurangi
sejumlah uang yang dapat dihemat
oleh istrinya.
Pada saat wafatnya, Abu Bakar
hanya mempunyai sebuah sprei tua
dan seekor unta, yang merupakan
harta negara. Ini pun
dikembalikannya kepada
penggantinya, Umar bin Khattab.
Umar pernah mengatakan, “Aku
selalu saja tidak pernah bisa
mengalahkan Abu Bakar dalam
beramal shaleh. ”

Alkisah, hiduplah Di sudut pasar
Madinah Al-Munawarah seorang
pengemis Yahudi buta hari demi
ia lalui dengan selalu berkata
"Wahai saudaraku jangan dekati
Muhammad, dia itu orang gila,
dia itu pembohong, dia itu
tukang sihir, apabila kalian
mendekatinya kalian akan
dipengaruhinya".
Setiap pagi Rasulullah SAW
mendatanginya dengan
membawa makanan, dan tanpa
berkata sepatah kata pun
Rasulullah SAW menyuapi
makanan yang dibawanya
kepada pengemis itu walaupun
pengemis itu selalu berpesan
agar tidak mendekati orang yang
bernama Muhammad.
Rasulullah SAW melakukannya
hingga menjelang Beliau SAW
wafat. Setelah kewafatan
Rasulullah tidak ada lagi orang
yang membawakan makanan
setiap pagi kepada pengemis
Yahudi buta itu.
Suatu hari Abubakar r.a
berkunjung ke rumah anaknya
Aisyah r.ha. Beliau bertanya
kepada anaknya, "anakku adakah
sunnah kekasihku yang belum
aku kerjakan", Aisyah r.ha
menjawab pertanyaan ayahnya,
"Wahai ayah engkau adalah
seorang ahli sunnah hampir
tidak ada satu sunnah pun yang
belum ayah lakukan kecuali satu
sunnah saja". "Apakah
Itu?",tanya Abubakar r.a. Setiap
pagi Rasulullah SAW selalu pergi
ke ujung pasar dengan
membawakan makanan untuk
seorang pengemis Yahudi buta
yang berada di sana", kata
Aisyah r.ha.
Ke esokan harinya Abubakar r.a.
pergi ke pasar dengan
membawa makanan untuk
diberikannya kepada pengemis
itu. Abubakar r.a mendatangi
pengemis itu dan memberikan
makanan itu kepada nya. Ketika
Abubakar r.a. mulai
menyuapinya, si pengemis
marah sambil berteriak,
"siapakah kamu ?". Abubakar r.a
menjawab, "aku orang yang
biasa". "Bukan !, engkau bukan
orang yang biasa
mendatangiku", jawab si
pengemis buta itu. Apabila ia
datang kepadaku tidak susah
tangan ini memegang dan tidak
susah mulut ini mengunyah.
Orang yang biasa mendatangiku
itu selalu menyuapiku, tapi
terlebih dahulu dihaluskannya
makanan tersebut dengan
mulutnya setelah itu ia berikan
pada ku dengan mulutnya
sendiri", pengemis itu
melanjutkan perkataannya.
Abubakar r.a. tidak dapat
menahan air matanya, ia
menangis sambil berkata kepada
pengemis itu, aku memang
bukan orang yang biasa datang
pada mu, aku adalah salah
seorang dari sahabatnya, orang
yang mulia itu telah tiada. Ia
adalah Muhammad Rasulullah
SAW. Setelah pengemis itu
mendengar cerita Abubakar r.a.
ia pun menangis dan kemudian
berkata, benarkah demikian?,
selama ini aku selalu
menghinanya, memfitnahnya, ia
tidak pernah memarahiku
sedikitpun, ia mendatangiku
dengan membawa makanan
setiap pagi, ia begitu mulia....
Pengemis Yahudi buta tersebut
akhirnya bersyahadat dihadapan
Abubakar r.a.
Dari kisah diatas kita dapat
ketahui betapa mulianya sifat
nabi Muhammad yang suka
menolong sekalipun kepada
pengemis yahudi yang selalu
menghinanya. Beliau tidak
marah malah sebaliknya beliau
menunjukkan kecintaannya
kepada orang yang
membencinya. Semoga ini kisah
ini bisa menjadi teladan untuk
kita berbuat baik kepada
siapapun sekalipun kepada.
Blog ini hanyalah Blog yang sederhana, karena saya hanya pemula dalam Dunia Bloger, kritik dan saran yang membangun sangat saya harapkan demi kemajuan Blog saya dan demi kemajuan Bloger Indonesia.
Rabu, 27 Januari 2010
Minggu, 24 Januari 2010
Komunita Boedak Nanggeleng

Kurangi tidur, banyain ngopi
hahahahahahaa...........
itulah yg terucap dari mulut barudak nanggeleng...
komunitas anak-anak nanggeleng kini bertambah semakin banyak setelah mengalahkan beberapa komunitas yang berbahaya, diantaranya komunitas yang sring mengganggu seperti "Obe" ( Operasi Bilik )
dan bagusnya anak-anak nanggeleng tidak mempunyai pemimpin dan kehidupannya damai saling menghargai antara yang tua dan yang muda....
pekerjaan sehari-harinya hanyalah Begadang dan ngintip orang-orang yang lagi pada bersetubuh, heheheh...
salam Anak nanggeleng.
Jumat, 22 Januari 2010
Minta maaf bukan hari lebaran saja1

Islam amat menuntut umatnya sentiasa mudah meminta maaf dan mudah memberi kemaafan sesama saudaranya. Firman ALLAH:
“Dan orang yang berhati sabar dan suka memaafkan, sesungguhnya hal yang demikian itu adalah termasuk pekerjaan yang dilakukan dengan keteguhan hati.” (As Syura: 43)
Di pagi Syawal, isteri dituntut supaya memohon maaf dengan suami. Tapi ramai di kalangan para isteri yang segan untuk memohon ampun dengan suaminya. Inilah penyakit wanita hari ini; tengking suami tidak malu, tetapi untuk meminta maaf kepada suami, malu dan kekok sekali.
Kenapa mesti malu melakukan kerja yang mulia? Malu itu ada baik dan buruknya. Malu dalam melakukan perkara maksiat dan syubahat adalah sangat dipuji tetapi malu melakukan ketaatan kepada ALLAH sangat dikeji.
Merendahkan diri kepada suami merupakan suatu ketaatan terhadap hukum ALLAH. Kadang-kala sampai sepuluh kali mundar-mandir di bilik, di dalam hati tertanya-tanya: “Nak salam ke tidak?” Akhirnya dengan hati yang berat, pergi juga mengadap suami.
Bercucuranlah air mata kesayuan, “Bang, Yah minta maaf di atas segala kesalahan. Yah janji tak buat lagi.” Itulah janji si isteri.
Bersyukurlah jika ada isteri yang mahu meminta maaf biarpun setahun sekali. Amat malang sekali kalau seumur hidup tidak pernah berbuat langsung, tambahan pula kalau sudah tua. Mereka sedar diri mereka banyak dosa dengan suami tetapi apabila ego menguasai diri maka setiap kebenaran dipandang remeh dan dianggap bole ditangguh-tangguh. Sedangkan kalau seorang isteri itu mati tanpa keredhaan suami, Nerakalah tempatnya.
Meminta maaf dengan suami bukan di Hari Raya sahaja. Kita digalakkan memohon maaf ketika suami hendak keluar rumah, semasa sembahyang berjemaah dengannya atau semasa hendak tidur. Sekali kita memohon maaf dengannya maka bergugurlah dosa-dosa kita dan senantiasa di dalam keampunan Illahi.
Sayidatina Fatimah Az-Zahra pernah secara tak sengaja mengecilkan hati Sayidina Ali k.w. Untuk memohon maaf kepada suaminya sampai 70 kali hingga tersenyum Sayidina Ali menyaksikan kelucuan Fatimah masih belum puas hati lalu keesokan harinya beliau menceritakan kepada Rasulullah S.A.W hal itu.
Rasulullah memberitahu puterinya, seandainya Sayidina Ali tidak memaafkannya dan ditaqdirkan Siti Fatimah wafat ketika itu, nescaya baginda tidak akan memandikan jenazahnya. Begitulah tegasnya Rasulullah S.A.W dalam menegakkan hukum ALLAH. Suami mempunyai kuasa mutlak dalam rumahtangga sedangkan Rasulullah S.A.W hanya berhak memberi panduan dan nasihat sahaja.
Siti Aisyah r.ha pernah mencemburui Siti Khadijah r.ha walaupun ia telah lama wafat kerana Rasulullah S.A.W sering memuji keperibadiannya di hadapan Siti Aisyah. Tersentuh hati baginda apabila Siti Aisyah menggelarkan Siti Khadijah dengan panggilan yang tidak selayaknya. Tertitis air mata Rasulullah mengenangkan jasa-jasa Siti Khadijah yang telalu besar di atas pengorbanan jiwa, harta dan kasih sayangnya di saat orang lain memulaukan baginda. Baginda dikurniakan zuriat dengan Siti Khadijah. Akhirnya Siti Aisyah terdiam dan tidak pernah mengulangi kata-kata itu lagi.
Memanglah kita tidak boleh menandingi kesemua isteri Rasulullah S.A.W tetapi cukuplah kita mengambil pengajaran dan berusaha untuk memperbaiki diri ke arah itu.
Kalau tidak biasa memohon maaf kepada suami, memanglah dirasakan terlalu kekok dan perit untuk melakukannya. Sepatutnya kita lebih bimbang dengan kemurkaan ALLAH kalau kesalahan kita kepada suami tidak dimaafkan dan kita tidak diredhai oleh suami. Bukankah keredhaan suami itu bermakna keredhaan ALLAH jua?
Oleh itu kita tiada pilihan lain melainkan memiliki iman. Hanya orang yang beriman sahaja yang sanggup tunduk di atas segala perintah dan tegahan Illahi. Hanya wanita-wanita yang beriman sahaja yang senantiasa berdoa semoga ditunjuki jalan yang lurus sepertimana permohonan kita setiap kali mendirikan sembahyang:
“Ya ALLAH, tunjuki kami jalan yang lurus. Jalan mereka yang Engkau beri nikmat. Bukan jalan mereka yang Engkau murkai. Tidak juga jalan mereka yang sesat.”
Semoga dengan taufiq dan hidayah-Nya, dengan umur yang masih ada, diizinkan dapat kita gunakan sepenuhnya untuk berbakti kepada-Nya dan mentaati suami. Senantiasa bersikap rendah diri dengan suami dan selalu merasakan diri bersalah.
Jangan lengah meminta maaf, jadikan ia sebagai amalan harian kita. Meminta maaf bukan semestinya di Hari Raya sahaja kerana kita tidak tahu apakah ALLAH masih panjangkan umur kita untuk dapat berada di Hari Raya yang akan datang.
Kemuliaan Abubakar Asidiq

Ketika diangkat sebagai khalifah, tepat
sehari sesudahnya Abu Bakar r.a.
terlihat berangkat ke pasar dengan
barang dagangannya. Umar
kebetulan bertemu dengannya di
jalan dan mengingatkan bahwa di
tangan Abu Bakar sekarang terpikul
beban kenegaraan yang berat.
“ Mengapa kau masih saja pergi ke
pasar untuk mengelola bisnis?
Sedangkan negara mempunyai
begitu banyak permasalahan yang
harus dipecahkan …” sentil Umar.
Mendengar itu, Abu Bakar
tersenyum. “Untuk
mempertahankan hidup keluarga,”
ujarnya singkat. “maka aku harus
bekerja.”
Kejadian itu membuat Umar berpikir
keras. Maka ia pun, bersama sahabat
yang lain berkonsultasi dan
menghitung pengeluaran rumah
tangga khalifah sehari-hari. Tak lama,
mereka menetapkan gaji tahunan
2,500 dirham untuk Abu Bakar, dan
kemudian secara bertahap,
belakangan ditingkatkan menjadi 500
dirham sebulan. Jika dikonversikan
pada rupiah, maka gaji Khalifah Abu
Bakar hanya sebebsar Rp. 72 juta
dalam setahun, atau sekitar Rp 6 juta
dalam sebulan. Sekadar informasi,
nilai dirham tidak pernah berubah.
Meskipun gaji khalifah sebesar itu,
Abu Bakar tidak pernah mengambil
seluruhnya gajinya. Pada suatu hari
istrinya berkata kepada Abu bakar,
“ Aku ingin membeli sedikit manisan.”
Abu Bakar menyahut, “Aku tidak
memiliki uang yang cukup untuk
membelinya. ”
Istrinya berkata, “Jika engkau ijinkan,
aku akan mencoba untuk
menghemat uang belanja kita sehari-
hari, sehingga aku dapat membeli
manisan itu. ”
Abu Bakar menyetujuinya.
(image)
(image)
Maka mulai saat itu istri Abu Bakar
menabung sedikit demi sedikit,
menyisihkan uang belanja mereka
setiap hari. Beberapa hari kemudian
uang itu pun terkumpul untuk
membeli makanan yang diinginkan
oleh istrinya. Setelah uang itu
terkumpul, istrinya menyerahkan
uang itu kepada suaminya untuk
dibelikan bahan makanan tersebut.
Namun Abu Bakar berkata,
“ Nampaknya dari pengalaman ini,
ternyata uang tunjangan yang kita
peroleh dari Baitul Mal itu melebihi
keperluan kita. ” Lalu Abu bakar
mengembalikan lagi uang yang
sudah dikumpulkan oleh istrinya itu
ke Baitul Mal. Dan sejak hari itu, uang
tunjangan beliau telah dikurangi
sejumlah uang yang dapat dihemat
oleh istrinya.
Pada saat wafatnya, Abu Bakar
hanya mempunyai sebuah sprei tua
dan seekor unta, yang merupakan
harta negara. Ini pun
dikembalikannya kepada
penggantinya, Umar bin Khattab.
Umar pernah mengatakan, “Aku
selalu saja tidak pernah bisa
mengalahkan Abu Bakar dalam
beramal shaleh. ”
Kemuliaan Rosululloh SAW

Alkisah, hiduplah Di sudut pasar
Madinah Al-Munawarah seorang
pengemis Yahudi buta hari demi
ia lalui dengan selalu berkata
"Wahai saudaraku jangan dekati
Muhammad, dia itu orang gila,
dia itu pembohong, dia itu
tukang sihir, apabila kalian
mendekatinya kalian akan
dipengaruhinya".
Setiap pagi Rasulullah SAW
mendatanginya dengan
membawa makanan, dan tanpa
berkata sepatah kata pun
Rasulullah SAW menyuapi
makanan yang dibawanya
kepada pengemis itu walaupun
pengemis itu selalu berpesan
agar tidak mendekati orang yang
bernama Muhammad.
Rasulullah SAW melakukannya
hingga menjelang Beliau SAW
wafat. Setelah kewafatan
Rasulullah tidak ada lagi orang
yang membawakan makanan
setiap pagi kepada pengemis
Yahudi buta itu.
Suatu hari Abubakar r.a
berkunjung ke rumah anaknya
Aisyah r.ha. Beliau bertanya
kepada anaknya, "anakku adakah
sunnah kekasihku yang belum
aku kerjakan", Aisyah r.ha
menjawab pertanyaan ayahnya,
"Wahai ayah engkau adalah
seorang ahli sunnah hampir
tidak ada satu sunnah pun yang
belum ayah lakukan kecuali satu
sunnah saja". "Apakah
Itu?",tanya Abubakar r.a. Setiap
pagi Rasulullah SAW selalu pergi
ke ujung pasar dengan
membawakan makanan untuk
seorang pengemis Yahudi buta
yang berada di sana", kata
Aisyah r.ha.
Ke esokan harinya Abubakar r.a.
pergi ke pasar dengan
membawa makanan untuk
diberikannya kepada pengemis
itu. Abubakar r.a mendatangi
pengemis itu dan memberikan
makanan itu kepada nya. Ketika
Abubakar r.a. mulai
menyuapinya, si pengemis
marah sambil berteriak,
"siapakah kamu ?". Abubakar r.a
menjawab, "aku orang yang
biasa". "Bukan !, engkau bukan
orang yang biasa
mendatangiku", jawab si
pengemis buta itu. Apabila ia
datang kepadaku tidak susah
tangan ini memegang dan tidak
susah mulut ini mengunyah.
Orang yang biasa mendatangiku
itu selalu menyuapiku, tapi
terlebih dahulu dihaluskannya
makanan tersebut dengan
mulutnya setelah itu ia berikan
pada ku dengan mulutnya
sendiri", pengemis itu
melanjutkan perkataannya.
Abubakar r.a. tidak dapat
menahan air matanya, ia
menangis sambil berkata kepada
pengemis itu, aku memang
bukan orang yang biasa datang
pada mu, aku adalah salah
seorang dari sahabatnya, orang
yang mulia itu telah tiada. Ia
adalah Muhammad Rasulullah
SAW. Setelah pengemis itu
mendengar cerita Abubakar r.a.
ia pun menangis dan kemudian
berkata, benarkah demikian?,
selama ini aku selalu
menghinanya, memfitnahnya, ia
tidak pernah memarahiku
sedikitpun, ia mendatangiku
dengan membawa makanan
setiap pagi, ia begitu mulia....
Pengemis Yahudi buta tersebut
akhirnya bersyahadat dihadapan
Abubakar r.a.
Dari kisah diatas kita dapat
ketahui betapa mulianya sifat
nabi Muhammad yang suka
menolong sekalipun kepada
pengemis yahudi yang selalu
menghinanya. Beliau tidak
marah malah sebaliknya beliau
menunjukkan kecintaannya
kepada orang yang
membencinya. Semoga ini kisah
ini bisa menjadi teladan untuk
kita berbuat baik kepada
siapapun sekalipun kepada.
Langganan:
Postingan (Atom)
Labels
- Barnang (1)
- iklan (1)
- Kemuliaan (1)
- Minta maaf (1)
- Mulia (1)
Blog Archive
About Me
Jam
About This Blog
Lorem Ipsum
About This Blog
Pengikut
Labels
- Barnang (1)
- iklan (1)
- Kemuliaan (1)
- Minta maaf (1)
- Mulia (1)
