Jumat, 22 Januari 2010

Kemuliaan Abubakar Asidiq


Ketika diangkat sebagai khalifah, tepat
sehari sesudahnya Abu Bakar r.a.
terlihat berangkat ke pasar dengan
barang dagangannya. Umar
kebetulan bertemu dengannya di
jalan dan mengingatkan bahwa di
tangan Abu Bakar sekarang terpikul
beban kenegaraan yang berat.
“ Mengapa kau masih saja pergi ke
pasar untuk mengelola bisnis?
Sedangkan negara mempunyai
begitu banyak permasalahan yang
harus dipecahkan …” sentil Umar.
Mendengar itu, Abu Bakar
tersenyum. “Untuk
mempertahankan hidup keluarga,”
ujarnya singkat. “maka aku harus
bekerja.”
Kejadian itu membuat Umar berpikir
keras. Maka ia pun, bersama sahabat
yang lain berkonsultasi dan
menghitung pengeluaran rumah
tangga khalifah sehari-hari. Tak lama,
mereka menetapkan gaji tahunan
2,500 dirham untuk Abu Bakar, dan
kemudian secara bertahap,
belakangan ditingkatkan menjadi 500
dirham sebulan. Jika dikonversikan
pada rupiah, maka gaji Khalifah Abu
Bakar hanya sebebsar Rp. 72 juta
dalam setahun, atau sekitar Rp 6 juta
dalam sebulan. Sekadar informasi,
nilai dirham tidak pernah berubah.
Meskipun gaji khalifah sebesar itu,
Abu Bakar tidak pernah mengambil
seluruhnya gajinya. Pada suatu hari
istrinya berkata kepada Abu bakar,
“ Aku ingin membeli sedikit manisan.”
Abu Bakar menyahut, “Aku tidak
memiliki uang yang cukup untuk
membelinya. ”
Istrinya berkata, “Jika engkau ijinkan,
aku akan mencoba untuk
menghemat uang belanja kita sehari-
hari, sehingga aku dapat membeli
manisan itu. ”
Abu Bakar menyetujuinya.
(image)
(image)
Maka mulai saat itu istri Abu Bakar
menabung sedikit demi sedikit,
menyisihkan uang belanja mereka
setiap hari. Beberapa hari kemudian
uang itu pun terkumpul untuk
membeli makanan yang diinginkan
oleh istrinya. Setelah uang itu
terkumpul, istrinya menyerahkan
uang itu kepada suaminya untuk
dibelikan bahan makanan tersebut.
Namun Abu Bakar berkata,
“ Nampaknya dari pengalaman ini,
ternyata uang tunjangan yang kita
peroleh dari Baitul Mal itu melebihi
keperluan kita. ” Lalu Abu bakar
mengembalikan lagi uang yang
sudah dikumpulkan oleh istrinya itu
ke Baitul Mal. Dan sejak hari itu, uang
tunjangan beliau telah dikurangi
sejumlah uang yang dapat dihemat
oleh istrinya.
Pada saat wafatnya, Abu Bakar
hanya mempunyai sebuah sprei tua
dan seekor unta, yang merupakan
harta negara. Ini pun
dikembalikannya kepada
penggantinya, Umar bin Khattab.
Umar pernah mengatakan, “Aku
selalu saja tidak pernah bisa
mengalahkan Abu Bakar dalam
beramal shaleh. ”

0 komentar:

Posting Komentar

Mohon Tinggalkan Komentar yang membangun, untuk kemajuan Blog ini,
Harap tidak berbau pornografi dan Kekerasan..